Kisah Inspirasi untuk Para Suami dan Istri, Bagian Pertama :)

Posted: October 12, 2011 by sityb in Uncategorized

Dapat artikel ini dari seorang rekan, agak panjang sih, tetapi semoga peristiwa yang terjadi di bawah ini dapat membuat kita belajar untuk selalu bersyukur untuk apa yang telah kita miliki..

“Aku membencinya!” Itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku, di hampir sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Aku menikah karena paksaan dari orangtua, dan hal ini membuat aku membenci suami sendiri. Walaupun karena terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap membenci. Kedua orangtuaku sangat menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami yang sempurna untuk putri satu-satunya mereka.

Setelah menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan segala hal sesuka hatiku. Aku tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku selalu bergantung kepadanya, karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya ia lakukan. Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorang pun yang berani melawan. Aku tidak suka handuknya yang basah di tempat tidur, aku sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja (dan meninggalkan bekas lengket), aku benci ketika ia memakai komputerku, meski hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia menggantung bajunya di lemari bajuku, kalau ia memakai pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia menghubungiku hingga berkali-kali, ketika aku sedang bersenang-senang dengan teman-temanku.

Tadinya aku memilih untuk tidak mau mempunyai anak terlebih dulu. Meski tidak bekerja, aku tidak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan aku pun ber-KB. Sampai suatu hari aku lupa meminum pil KB, dan meski tahu, ia membiarkannya. Aku hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari empat bulan, dokter pun menolak untuk menggugurkannya. Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahanku semakin bertambah setelah tahu aku mengandung anak kembar dan harus mengalami kelahiran yang sulit.

Waktu pun berlalu sehingga anak-anak kami merayakan hari ulang tahun yang kedelapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling terakhir. Suami dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Suamiku yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Pagi itu ia mengingatkan kalau hari itu adalah hari ulang tahun ibuku. Aku hanya menjawab dengan mengangguk, tanpa mempedulikan kata-kata yang mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, di mana pada saat itu aku lebih memilih ke mall dan tidak hadir di acara ibu. Yaa.. Karena merasa terjebak dengan perkawinanku, aku juga membenci kedua orang tuaku.

Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku dan diikuti anak-anak. Tetapi entah mengapa pada hari itu, ia juga memelukku erat, sehingga anak-anak menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan pelukannya. Meskipun akhirnya aku ikut tersenyum bersama dengan anak-anak. Ia kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan dia terasa berat untuk pergi meninggalkan kami pada pagi itu.

Ketika mereka pergi, aku memutuskan untuk menghabiskan waktu ke salon. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam kemudian, serta bertemu dengan salah satu teman sekaligus orang yang tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar, betapa terkejutnya ketika menyadari bahwa dompetku tidak ada. Meski merogoh tas hingga bagian terdalam, aku tidak menemukannya. Akhirnya aku menelepon suamiku dan bertanya. “Maaf sayang, kemarin adik minta uang jajan dan aku tak punya uang kecil. Maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruh kembali ke tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku,” katanya menjelaskan dengan lembut.

Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphone-ku kembali berbunyi, dan meski masih kesal, aku menerima dengan setengah membentak. “Apalagi?” “Sayang, aku akan pulang sekarang. Aku ambil dompet dan mengantarnya padamu. Sayang sekarang ada dimana?” tanya suamiku dengan cepat, kuatir aku menutup teleponnya. Aku menyebut nama sebuah salon, dan tanpa menunggu jawaban aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si empunya salon sebenarnya sudah memperbolehkanku untuk pergi, tetapi karena rasa malu, membuatku gengsi untuk berhutang dulu.

Hujan turun deras ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku segera sampai. Menit demi menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tidak ada jawaban meski pun sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.

Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing yang menjawab telepon suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu memperkenalkan diri, “Selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak A?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata seorang polisi, dan ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan sehingga saat ini sedang dibawa ke rumah sakit. Saat itu aku hanya terdiam dan hanya menjawab dengan terima kasih. Ketika telepon ditutup, tanganku menggenggam erat handphone, dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya ada apa sehingga wajahku menjadi pucat.

Entah bagaimana, akhirnya aku sampai juga di rumah sakit dan seluruh keluarga sudah hadir menyusul. Aku hanya terdiam menunggu suamiku di depan Ruang Gawat Darurat. Aku tidak tahu harus melakukan apa, karena selama ini dialah yang melakukan segalanya untukku. Setelah menunggu beberapa jam, ada seorang dokter yang keluar dan menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada, bukan karena kecelakaan, tetapi terkena serangan jantung. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan hati kedua orang tuaku dan orang tuanya yang shock. Sama sekali tidak ada air mata setetes pun keluar. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat, tetapi kesedihan mereka sama sekali tidak mampu untuk membuatku menangis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s