Seekor Singa di Tengah Kawanan Domba, Bagian ke-1

Posted: October 2, 2011 by sityb in Uncategorized

Agak panjang sih artikel ini, tapi sangat memberkati. Selamat menikmati🙂

Sesudah sesi pengajaran, kepala desa mengundang saya ke acara makan malam istimewa untuk menghormati saya dan dijamu dengan masakan tradisional sesuai kehidupan dan budaya desa. Selama acara makan inilah kepala desa menceritakan kepada saya kisah yang mengajarkan saya sebuah pelajaran tentang kepemimpinan yang tidak akan pernah saya lupakan.

Seekor singa di tengah kawanan domba

Suatu waktu ada seorang petani dan sekawanan domba yang tinggal di desa ini. Suatu hari, ia membawa domba-dombanya ke padang rumput, dan sementara mereka merumput, ia tiba-tiba mendengar suara aneh yang berasal dari balik rerumputan, yang semula terdengar seperti suara anak kucing. Karena rasa ingin tahu, gembala tua ini pergi untuk melihat apa yang merupakan sumber suara yang terus terdengar ini, dan dengan terkejut, ia melihat seekor anak singa yang sedang gemetar. Jelaslah anak singa ini terpisah dari kelompoknya.

Pikiran pertamanya adalah bahaya yang akan ia alami apabila ia tinggal terlalu dekat dengan anak singa tersebut dan induknya kembali. Segera saja orang tua ini meninggalkan daerah itu, dan mengawasi dari kejauhan untuk melihat apakah induk singa dan kawanannya akan kembali. Namun, sesudah matahari mulai terbenam, dan tetap saja tidak ada aktivitas untuk mengamankan anak singa tersebut, gembala itu memutuskan bahwa, dalam pertimbangannya yang terbaik, dan demi keamanan dan kelangsungan hidup anak singa tersebut, ia membawa anak singa ini ke peternakannya serta mengurusnya.

Singa tersebut menjadi domba melalui pergaulan

Selama delapan bulan berikutnya, gembala itu memberi makan anak singa tersebut langsung melalui tangannya dengan susu segar dan menjaganya tetap hangat, aman, dan nyaman dalam perlindungan rumah pertaniannya. Sesudah anak singa itu bertumbuh menjadi bola otot berkilau yang penuh semangat dan senang bermain, gembala tersebut membawanya ke luar setiap hari bersama domba-domba untuk merumput. Anak singa itu tumbuh bersama domba-domba dan menjadi bagian dari kawanan domba. Domba-domba tersebut menerimanya sebagai salah satu dari mereka, dan ia berkelakuan seperti salah satu dari mereka.

Sesudah lima belas bulan berlalu, anak singa itu sudah menjadi singa remaja, tetapi kelakuan, suara, tanggapan, dan tingkah lakunya sama seperti salah satu dari domba-domba itu. Pada hakikatnya, singa tersebut sudah menjadi domba melalui pergaulan. Ia sudah kehilangan dirinya sendiri dan menjadi salah satu dari domba-domba itu.

Pada suatu siang yang panas, empat tahun kemudian, gembala tersebut duduk di atas sebuah batu, sambil berlindung di bawah bayangan tipis sebatang pohon tanpa daun. Ia mengawasi kawanan dombanya sementara domba-domba itu masuk ke air sungai yang dangkal dan mengalir tenang untuk minum. Singa yang mengira dirinya seekor domba itu mengikuti mereka ke dalam air untuk minum. Tiba-tiba, tepat di seberang sungai, muncullah dari semak hutan yang lebat seekor makhluk buas yang besar dan belum pernah dilihat oleh anak singa tersebut. Kawanan domba itu menjadi panik, dan berdasarkan naluri untuk bertahan hidup, melompat keluar dari air dan berlarian ke arah tanah pertanian. Mereka tidak pernah berhenti sampai semuanya bersembunyi dengan aman di balik pagar kandang. Anehnya, anak singa, yang sekarang tumbuh menjadi singa dewasa, juga ikut berimpit-impitan bersama mereka dengan ketakutan.

Sementara kawanan domba tersebut berebut menyelamatkan diri di tanah pertanian, binatang buas tersebut mengeluarkan suara yang terasa mengguncangkan hutan. Saat ia mengangkat kepalanya ke aras rumput yang tinggi, si gembala dapat melihat bahwa dalam mulutnya yang basah oleh darah ada seekor tubuh anak domba yang tak bernyawa dari kawanan tersebut. Orang ini tahu bahwa bahaya sudah kembali ke bagian hutan tersebut.

Tujuh hari berlalu tanpa insiden lebih lanjut, dan kemudian, sementara kawanan domba itu merumput, singa muda tersebut pergi ke sungai untuk minum. Saat ia membungkuk di atas air, tiba-tiba ia panik dan berlari tanpa kendali menuju rumah pertanian untuk menyelamatkan diri. Kawanan domba itu tidak berlarian dan keheranan mengapa ia bertingkah demikian, sementara ia bertanya-tanya dalam hati mengapa domba-domba tersebut tidak berlarian karena ia sudah melihat binatang buas itu lagi. Sesudah beberapa lama, singa muda tersebut perlahan-lahan kembali ke kawanan domba itu dan kemudian ke air untuk minum lagi. Sekali lagi, ia melihat binatang buas tersebut dan tubuhnya membeku karena panik. Ternyata itu adalah bayangannya sendiri di air.

Sementara ia berusaha mengerti apa yang sedang ia lihat, tiba-tiba binatang buas tersebut muncul kembali dari hutan. Kawanan domba itu segera berlarian secepat mungkin ke arah rumah pertanian, tetapi sebelum singa muda itu dapat bergerak, binatang buas tersebut sudah melangkah masuk ke air ke arahnya dan mengeluarkan suara yang memekakkan telinga sampai memenuhi hutan. Untuk sesaat, singa muda itu merasa bahwa hidupnya segera akan berakhir. Ia sadar bahwa ia melihat bukan hanya satu binatang buas, melainkan dua–satu di air dan satu di depannya.

Kepalanya terasa berputar karena bingung saat binatang buas itu datang mendekati sampai sekitar tiga meter darinya dan menggeram ke arahnya berhadapan dengan kekuatan yang menakutkan dalam cara yang seolah-olah berkata kepadanya, “Cobalah, dan mari ikut aku.”

Bersambung ke “Seekor Singa di Tengah Kawanan Domba, Bagian ke-2”..

Diambil dari buku “The Spirit of Leadership”
Oleh Dr. Myles Munroe
Halaman 26-29

please visit and enjoying my blog at:
http://ricky2phos.wordpress.com
thank you🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s