Mis-Fire

Posted: April 20, 2010 by sityb in Uncategorized

[ Bagian Pertama ]

Ini adalah untuk ketiga kalinya di dalam karir saya sebagai penegak hukum, saya memarkir mobil di suatu tempat yang terpencil, mematikan mesin dan radio panggil. Seperti biasa melanjutkan meratapi nasib seorang manusia yang paling kacau di dunia ini, yaitu diri saya sendiri.

Ayah adalah seorang pendeta. Jadi sepanjang hidup, saya selalu mendengar tentang Tuhan dari orang tua saya. Saya teringat peristiwa yang selalu menghantui saya, dengan hati yang kesal, saya berjalan keluar dari gedung gereja di tempat ayah melayani.

Sambil memaki-maki Tuhan, dan meludahi gereja, saya bersumpah bahwa seumur hidup, saya tidak akan menjejakkan kaki di gereja manapun.

Saya berkata, “Kalau pun Tuhan itu ada, saya tidak mau berurusan dengan-Nya!”. Bagi saya Dia hanyalah Tuhan dari segala kemiskinan, kekalahan, dan keputus-asaan, dan sesungguhnya Dia tidak pernah mempedulikan saya.

Yang Dia lakukan di dalam keluarga kami hanyalah membuat ibu tetap sakit, dan membiarkan kami terus bangkrut karena harus membayar tagihan dokter dan biaya rumah sakit.

Ketika masih kecil, saya pernah diberitahu suatu alasan kenapa kakek begitu cepat dipanggil ke Sorga, adalah karena Tuhan sangat membutuhkan kakek disana.

Bukankah ini Tuhan yang mementingkan diri-Nya sendiri? Pikir saya. Apakah Dia tidak berpikir bahwa masih ada anak-anak dan cucu-cucunya yang sangat menyayangi kakek di bumi? Hati saya semakin benci kepada Tuhan.

Sejak kecil, saya selalu memimpikan bahwa suatu saat kelak saya akan menjadi seorang penegak hukum. Akhirnya, mimpi saya itu terwujud. Namun kebencian saya pada Tuhan terus mengikuti saya, menyatu pada seragam, lencana, dan pistol saya.

Kebencian itu mempengaruhi dan memuncak hingga ke sekitar saya, pada orang-orang, terutama saya lampiaskan untuk menindak pelaku kriminal.

Keseharian saya sebenarnya penuh dengan ketakutan, meskipun saya tidak pernah membicarakannya pada orang lain. Walaupun saya membenci Tuhan, namun ada sebuah suara-suara dalam hati saya yang berkata bahwa yang saya lakukan adalah salah.

Dan perbuatan saya ini bisa menyeret saya ke neraka, bukan hanya saya sendiri, namun juga menyeret seluruh keluarga saya. Setiap ada panggilan radio untuk sebuah tugas, saya tahu, ini mungkin adalah hal terakhir yang saya lakukan.

Karena hidup saya bisa berakhir di tangan seorang maniak dengan senapannya, ataupun seorang anak kecil yang ketakutan dengan pistol di tangannya. Dan itulah saatnya saya harus menanggung semua ini di neraka.

[ Bersambung ]

http://groups.yahoo.com/group/SITYB/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s