Mauritania: Timotius

Posted: February 11, 2010 by sityb in Uncategorized

“Karena aku mau… supaya hati mereka terhibur dan mereka bersatu dalam kasih.” (Kolose 2:2)

“Tolong beritahu dia, Timotius!” teriak Maura, memohon kepada suaminya. “Beritahukan kepada gubernur di mana Alkitab itu disembunyikan dan engkau akan bebas! Aku tidak tahan menyaksikannya lagi.” Timotius dan Maura, warga Mauritania provinsi Romawi, baru saja menikah beberapa minggu saat mereka ditahan.

Maura menyaksikan dengan penuh rasa takut ketika tentara mencongkel mata suaminya dengan besi panas. Hal itu dilakukan agar mereka menyerah. Saat itu, di dalam keadaan tergantung dengan perintah Gubernur Romawi Arianus, Timotius menunggu tutup matanya dibuka. Rasa takut yang pada awalnya dia rasakan ketika ditangkap telah berubah menjadi rasa tenang dari Allah.

Dia bukannya menyangkali imannya dan memberitahukan tempat salinan Alkitab itu disembunyikan, seperti yang diharapkan oleh para tentara, tetapi dia malah memarahi istrinya. “Jangan biarkan kasihmu kepadaku melebihi kasihmu kepada Kristus,” katanya kepada Maura, menunjukkan kebulatan tekadnya untuk mati bagi Sang Juru Selamat.

Melihat keberanian suaminya, Maura memperoleh kekuatan.

Arianus yang marah oleh penolakan Timotius, berusaha mematahkan keberanian baru Maura. Dia menjatuhkan hukuman demi hukuman mengerikan yang pernah dikenal dalam dunia Romawi. Namun Timotius tetap bergeming. Dia menolak untuk menyangkali Kristus.

Setelah mereka berdua mengalami siksaan yang mengerikan, Timotius dan Maura disalibkan bersebelahan.

“Yesus tidak memercayakan pelayanan-Nya kepada perseorangan — Dia membangun sebuah keluarga rohani. Dia memakai kata ‘saudara’ untuk menyatakan bahwa Dia tidak mengharapkan para murid untuk melakukan semuanya sendiri. Paulus melanjutkan misi Kristus dengan mengajarkan kepada orang-orang percaya untuk berkumpul dalam jemaat untuk bersekutu dan menyembah Allah bersama-sama. Orang Kristen saling membutuhkan satu sama lain — teristimewanya pada saat menghadapi cobaan. Ketika ada orang percaya yang menjadi lemah, orang percaya lainnya memberikan dukungan dan dorongan. Itulah sebabnya Perjanjian Baru menganggap hidup dengan teladan sebagai hal yang penting dalam iman Kristiani. Teladan iman dan keberanian seseorang dapat menjadi dorongan bagi orang lain untuk mengikutinya. Sebaliknya, ketika orang percaya hancur saat menghadapi tekanan aniaya, maka orang percaya lainnya akan mudah menyerah juga. Sejarah menghargai kesetiakawanan komunitas orang-orang Kristen — terutama ketika menghadapi aniaya.”

Diambil dan disesuaikan dari:
Judul buku: Devosi Total

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s